Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

25
MANAJEMEN MUTU Chapter 2 (Establish Quality Goals) Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Mutu (Kelas G) Program Sarjana (S1) Dosen Pengampu : Drs. Bambang Munas Dwiyanto, Dipl. Comm., M.M. Imroatul Khasanah, S.E., M.M. Disusun oleh: Nadya Purnamasari 12010112130077 Muhamad Enggal Kristanto 12010112130079 Maria Josephine Widya Arshita 12010112130082 Neisya Hafizha Swaskarina 12010112130185 Asti Mardiana Putri 12010112140090 PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

description

J;LKLK

Transcript of Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

Page 1: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

MANAJEMEN MUTU

Chapter 2 (Establish Quality Goals)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Mutu (Kelas G) Program Sarjana (S1)

Dosen Pengampu :

Drs. Bambang Munas Dwiyanto, Dipl. Comm., M.M.

Imroatul Khasanah, S.E., M.M.

Disusun oleh:

Nadya Purnamasari 12010112130077

Muhamad Enggal Kristanto 12010112130079

Maria Josephine Widya Arshita 12010112130082

Neisya Hafizha Swaskarina 12010112130185

Asti Mardiana Putri 12010112140090

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2015

Page 2: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

1. Hakikat Tujuan Mutu

Tujuan Mutu adalah suatu target yang berorientasi pada mutu. Suatu tujuan

biasanya mencakup jumlah dan jadwal waktu.

1.1. Apakah Perencanaan Mutu Mencakup Penetapan Tujuan Mutu?

Perencanaan Mutu telah didefinisikan sebagai:

a. Kegiatan menetapkan tujuan mutu;

b. Mengembangkan proses dan produk yang diperlukan untuk mencapai

tujuan tersebut.

Definisi ini telah menyatakan bahwa tidak mungkin suatu perencanaan dibentuk

dalam bentuk abstrak.

Dalam pembahasan di sini, kita telah memasukkan penetapan tujuan sebagai

bagian dari peta jalan perencanaan mutu. Pencakupan ini sejalan dengan praktek

dan kecenderungan yang ada.

1.2 Tujuan Mutu Taktis

Tujuan mutu menjadi perhatian di negara – negara maju. Hal ini adalah akibat dari

pertemuan:

a. Kebutuhan manusia yang sangat banyak; dan

b. Kemampuan masyarakat industri untuk memuaskan kebutuhan tersebut.

Kebutuhan ini kemudian menjadi tujuan dan memunculkan sub tujuan yang dapat

berupa keistimewaan produk, keistimewaan proses, dan keistimewaan

pengendalian proses.

Dalam konsep little Q, tujuan mutu hampir selalu bersifat taktis. Tujuan ini

ditetapkan oleh bagian – bagian fungsional pada strata rendah dan menengah

perusahaan.

1.3 Tujuan Mutu Strategis

Tujuan mutu strategis ditetapkan pada strata tertinggi di perusahaan dan

merupakan bagian dari rencana bisnis perusahaan. Konsep tujuan mutu strategis

ini merupakan hasil dari gerakan yang menempatkan mutu sebagai prioritas

Page 3: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

tertinggi di antara tujuan – tujuan perusahaan. Konsep ini dilandasi oleh konsep

big Q.

Tujuan mutu strategis bukanlah sebuah pengganti dari tujuan mutu taktis

melainkan merupakan pelengkap. Dengan dicapainya tujuan taktis biasanya masih

dijumpai masalah.

2. Mana yang Lebih Dahulu, Tujuan atau Kebutuhan?

Dari satu sudut pandang, penetapan tujuan dapat dikatakan lebih dahulu. Tujuan

utama dari pemasok adalah menciptakan sumber pendapatan. Langkah utama

dalam mencapai tujuan tersebut adalah mengidentifikasi pelanggan dan

kebutuhannya. Dengan demikian urutannya adalah: penetapan tujuan, kemudian

diikuti dengan identifikasi pelanggan. Kebutuhan pelanggan dijadikan subtujuan

bagi pemasok.

Dari sudut pandang yang lain, penetapan kebutuhan dianggap datang terlebih

dahulu. Sejumlah pelanggan menyadari adanya kebutuhan yang belum terpuaskan

dan kebutuhan yang belum terpuaskan ini cenderung memotivasi perilaku

pelanggan. Dalam hal ini, pelanggan mengubah kebutuhan menjadi tujuan, yaitu

memenuhi kebutuhan yang belum terpuaskan. Dengan demikian urutannya

adalah: identifikasi kebutuhan, dan diikuti dengan penetapan tujuan untuk

mencapai kebutuhan tersebut.

2.1 Kebutuhan Pelanggan Menjadi Tujuan Pemasok

Kebutuhan seseorang dapat menjadi tujuan dari orang tersebut. Selain itu

kebutuhan seseorang juga dapat menjadi tujuan dari orang lain. Dengan begitu,

ada hubungan erat antara kebutuhan dan tujuan. Namun, antara pelanggan dan

pemasok terdapat perbedaan cara pandang terhadap kebutuhan dan tujuan. Kedua

urutan secara logis dapat digunakan.

Page 4: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

3. Sumber Tujuan Mutu

Tujuan mutu memiliki beberapa sumber. Dalam kasus perusahaan bisnis,

banyak dari tujuan mutu bersumber dari kebutuhan pelanggan. Setiap kebutuhan

pelanggan menjadi tujuan yang harus dipenuhi. Tujuan tersebut dapat dikatakan

sebagai market driven atau didorong oleh pasar .

Tujuan mutu lain dapat dianggap sebagai technology driven atau didorong

oleh teknologi. Mereka biasanya muncul ketika sebuah perusahaan

mengembangkan konsep teknologi baru yang belum pernah dipasarkan

sebelumnya. Dalam hal ini perlu diciptakan suatu pasar dengan meyakinkan

pelanggan bahwa mereka membutuhkan layanan yang diberikan oleh konsep baru

tadi.

Sebagai contoh yaitu jenis "walkman". Perusahaan yang mengembangkan

produk ini tidak melakukannya dalam rangka merespon kebutuhan pelanggan.

Namun, secara untung-untungan menganggap bahwa produk tersebut dapat

menciptakan suatu pasar.

Sumber lain dati tujuan mutu adalah dorongan dalam diri manusia.

Manajer yang baik akan berupaya mencapai kesempurnaan dalam manajemen

perusahaannya.

Sumber yang berbeda mengenai tujuan mutu adalah mandat yang

diberikan oleh kekuatan masyarakat : undang-undang, peraturan, dan pola

perilaku yang dibentuk oleh budaya.

Jelas bahwa terdapat banyak sumber tujuan mutu. Namun, dapat dikatakan

bahwa hampir semua tujuan itu bersumber pada kebutuhan pelanggan. Dalam hal

ini istilah “pelanggan” harus diperluas pengertiannya hingga mencakup siapa pun

yang terkena dampak kegiatan kita.

3.1. Sumber Tujuan Mutu Strategis

Tujuan mutu strategis adalah kategori khusus yang baru akhir-akhir ini

memasuki dunia perencanaan bisnis perusahaan. Karena konsep ini memiliki efek

mendalam pada operasi serta pada perencanaan mutu, kita akan mempelajari

kejadian yang menyebabkan dibangunnya tujuan mutu strategis. Kajian ini

Page 5: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

memiliki peristilahan yang belu terstandardisasi dengan baik, oleh karena itu kita

akan mendefinisikan istilah-istilah kunci sambil berjalan.

3.1.1 Visi

Visi dapat diartikan sebagai suatu ungkapan mengenai apa yang

ingin dicapai, atau ingin menjadi apa, pada suatu saat di masa yang

akan dating. Pernyataan-pernyataan tentang visi dapat berupa :

Menjadi produsen dengan biaya yang rendah

Menjadi pemimpin pasar

Menjadi pemimpin dalam inovasi

Menjadi pemimpin mutu

Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan daftar keinginan yang

biasa dimiliki suatu organisasi. Selanjutnya, pernyataan visi

tersebut harus diubah menjadi daftar tujuan spesifik yang harus

dicapai, serta jalan yang harus diikuti dalam rangka mencapai

tujuan tersebut. Pengubahan ini dilakukan melaui proses

perencanaan.

3.1.2 Kebijakan

Dalam manajemen, kebijakan yang dimaksud yaitu pedoman untuk

tindakan manajerial yang biasa dilakukan oleh banyak perusahaan.

Bentuknya dapat berupa pernyataan-pernyataan seperti :

Kami akan melakukan promosi dari dalam (promotion from

within)

Kami tidak akan banting harga

Produk kami harus sesuai dengan persepsi pelanggan

mengenai mutu yang baik

Produk kami harus sama atau melebihi mutu produk

pesaing

Kebijakan semacam ini biasanya diputuskan di tingkat tertinggi

dalam organisasi dan mempengaruhi tindakan manajerial.

Terutama bila diperkuat melalui pemeriksaan dan sistem imbalan.

Page 6: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

3.1.3 Dari Visi ke Tujuan Mutu Strategis

Visi menyerupai keinginan. Mereka memiliki sedikit hubungan

dengan realitas sampai mereka diubah menjadi hal-hal yang

spesifik - menjadi tujuan kuantitatif yang harus dipenuhi dalam

rentang waktu tertentu.

Contoh, ketika Perusahaan Mobil Ford meluncurkan mobil model

Taurus (pada awal 1980-an), salah satu visinya adalah untuk

meningkatkan daya-laba. Tujuan yang berhubungan dengan mutu

dalam hal ini adalah “menjadi yang terbaik di kelasnya".

Berikut adalah beberapa contoh aktual tujuan mutu strategis yang

telah ditetapkan sebagai bagian dari rencana bisnis perusahaan :

Membuat model Taurus / Sable pada tingkat mutu yang terbaik

di kelasnya. (Perusahaan Mobil Ford)

Meningkatkan produk dan layanan bermutu sepuluh kali pada

tahun 1989. (Tujuan Motorola pada Januari 1987)

Mengurangi biaya (miskin) kualitas sebesar 50 persen dalam

lima tahun. (Perusahaan 3M pada Juli 1982)

Mengurangi kesalahan penagihan sebesar 90 persen

(Perusahaan Endergi dan Listrik Florida)

3.1.4 Materi Tujuan Strategis

Di luar keunikan industry dan perusahaan tertentu, beberapa materi

berikut secara luas dapat diterapkan untuk tujuan mutu strategis :

Kinerja produk.

Tujuan ini berkaitan dengan keistimewaan kinerja utama yang

menggambarkan respon terhadap kebutuhan pelanggan :

kecepatan pelayanan, konsumsi bahan bakar, keramahan.

Kinerja kompetitif.

Materi ini selalu merupakan tujuan bagi organisasi ekonomi

yang berbasis pasar. Namun demikian jarang dianggap sebagai

Page 7: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

bagian dari rencana bisnis. Baru akhir-akhir ini

dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari rencana bisnis.

Peningkatan kualitas.

Tujuan ini dapat dicapai melalui peningkatan daya jual produk

dan atau menurunkan biaya akibat produk bermutu jelek.

Biaya akibat produk bermutu jelek.

Tujuan peningkatan mutu biasanya mencakup tujuan untuk

mengurangi biaya akibat produk yang bermutu jelek. Nominal

biaya ini memang tidak diketahui secara pasti. Namun, orang

tahu bahwa biayanya sangat tinggi. Walaupun tidak diketahui

angkanya, tetap dapat diketahui melalui perkiraan-perkiraan,

dengan tujuan untuk mencantumkan tujuan ini dalam rencana

bisnis dan meneruskannya secara efektif ke tingkat yang lebih

rendah.

Kinerja proses utama.

Tujuan ini baru-baru saja dimasukkan dalam rencana bisnis.

Tujuan ini berkaitan dengan kinerja proses utama yang bersifat

multifungsi. Misalnya, peluncuran produk baru, penagihan,

pelelangan, pembelian. Untuk proses makro seperti ini,

masalah khususnya adalah : Siapa yang harus bertanggung

jawab untuk mencapai tujuan? Kita akan membahas masalah

ini secara ringkas dalam “Kepada siapa dibagikan?" .

3.1.5 Manfaat Tujuan Mutu Strategis

Penetapan tujuan mutu strategis adalah langkah awal yang sangat

penting ke arah penerjemahan visi yang semula bersifat samar-

samar menjadi bentuk yang nyata. Langkah pertama ini juga

menghasilkan beberapa manfaat relatif bagi mutu :

Proses pemilihan tujuan merangsang maksud dan tujuan di

kalangan manajer tingkat atas.

Page 8: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

Karena tujuan tersebut harus mendapat persetujuan di tingkat

atas, maka para manajer tingkat atas menjadi terlibat secara

pribadi.

Tujuan yang merupakan bagian dari rencana bisnis sangat

menjamin ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan.

Sistem ganjaran yang berkaitan dengan rencana bisnis

menjadikan tujuan tersebut lebih layak dicapai.

3.1.6 Nominasi Tujuan Mutu Strategis

Tujuan yang terpilih untuk masuk ke rencana bisnis tahun

berikutnya idealnya dipilih dari daftar nominasi yang dibuat oleh

semua tingkat heirarki. Hanya beberapa nominasi tersebut akan

lolos dalam proses penyaringan dan menjadi bagian dari tujuan

strategis. Nominasi lain yang tidak lolos dapat dijadikan tujuan

bagi hierarki pada tingkat yang lebih rendah. Banyak juga

nominasi yang pada akhirnya dibuang karena tidak mampu

mendukung prioritas yang telah ditetapkan.

Manajer tingkat atas harus menjadi sumber nominasi bagi tujuan

mutu strategis, karena mereka menerima masukan penting dari

sumber-sumber seperti:

Keanggotaannya dalam dewan mutu

Kontaknya dengan pelanggan

Tinjauan berkala terhadap kinerja tujuan mutu

Pemeriksaan mutu yang diselenggarakan oleh manajer

tingkat atas

Kontak dengan manajer tingkat atas dari perusahaan lain

Page 9: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

3.1.7 Tujuan Mutu Pada Tingkat Taktis

Secara historis sebagian besar tujuan mutu ditetapkan di tingkat

menengah dan tingkat bawah hierarki perusahaan. Tujuan mutu ini

dimandatkan oleh sejumlah besar kebutuhan pelanggan, ditambah

deangan keistimewaan produk dan keistimewaan proses yang

terkait. Pola ini akan terus berlangsung pada tahun-tahun

berikutnya..

Dalam perusahaan yang mengguanakan tujuan mutu strategis,

proses perincian akan menghasilkan tujuan mutu tambahan yang

harus dicapai pada tingkat taktis. Sementara itu, para manajer

tingkat atas tidak selalu terlibat dalam setiap tujuan taktis

dikarenakan jumlahnya yang sangat banyak. Namun demikian,,

para manajer tingkat atas dapat dan harus ikut menetapkan

pendekatan yang digunakan untuk menangani tujuan taktis ini

secara kolektif. Contohnya seperti perencanaan partisipatif dan

pelatihan bagi para perencana.

4. Basis untuk Menetapkan Tujuan Mutu

Terdapat tiga basis yang menjadi pilihan dalam menetapkan tujuan mutu. Ketiga

basis itu antara lain :

a. Teknologi

b. Pasar

c. History

4.1 Teknologi Sebagai Basis

Pada hierarki tingkat bawah, tujuan mutu sebagian besar ditetapkan berbasis pada

teknologi. Sebagian besar dari tujuan ini tercantum dalam spesifikasi dan prosedur

yang menetapkan target mutu bagi karyawan level supervisor maupun non-

supervisor.

Page 10: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

4.2 Pasar Sebagai Basis

Pasar dipilih sebagai dasar untuk menetapkan tujuan mutu apabila :

Tujuan mutu berpengaruh terhadap daya jual produk.

Kualitas produk minimal sama atau melebihi apa yang dituntut pasar,

sehingga memiliki daya jual di pasar.

Proyek memerlukan waktu yang lama.

Untuk proyek yang memakan waktu lama sampai bertahun – tahun,

misalnya proyek pengembangan produk baru dan proyek konstruksi,

tujuan mutu harus ditetapkan dalam rangka mencapai perkiraan daya saing

pada saat proyek selesai.

Dalam industri yang bersifat monopoli, perusahaan dapat melakukan

perbandingan menggunakan bank data industri. Dalam beberapa perusahaan

bahkan terdapat persaingan internal, kinerja divisi – divisi dalam perusahaan

dibandingkan satu sama lain.

Pemasok internal juga memegang monopoli. Tetapi, pemasok internal memiliki

pesaing potensial yang berasal dari pemasok lain yang menawarkan jasa yang

sama. Karena itu, kinerja pemasok internal dapat dibandingkan dengan penawaran

yang diberikan oleh pemasok eksternal.

4.3 Benchmarking

Benchmarking merupakan konsep penetapan tujuan berlandaskan pengetahuan

tentang apa yang telah dicapai pihak lain. Benchmarking mencakup penetapan

tujuan berdasarkan apa yang telah dicapai pesaing eksternal dan internal. Pesaing

internal bisa dari anak perusahaan, divisi lain, atau model lain.

Benchmarking telah digunakan untuk kasus – kasus seperti :

Konsep terbaik di kelasnya yang digunakan oleh Ford Taurus.

Persyaratan waktu yang dibutuhkan untuk memberikan layanan ke

konsumen tidak boleh lebih lama dari waktu pesaing yang paling efektif.

Page 11: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

Persyaratan keandalan suatu produk baru paling tidak sama dengan produk

yang digantikan dan minimal sama dengan produk pesaing yang paling

andal.

Menurut konsep benchmarking, tujuan yang dirumuskan harus dapat dicapai

karena pihak lain telah mencapai hal tersebut.

4.4 History Sebagai Basis

Kinerja di masa lalu dapat dijadikan dasar untuk menetapkan tujuan mutu. Untuk

beberapa proses dan produk, basis historis membantu mempertahankan stabilitas.

Tetapi bila kinerja masa lalunya kurang baik, misalnya terjadi pemborosan biaya

karena mutu yang jelek, penggunaan basis historis berarti mempertahankan

kinerja yang buruk.

Manajer perlu berhati – hati jika ingin menggunakan kinerja masa lalu sebagai

dasar untuk menetapkan tujuan mutu. Bila kinerja masa lalunya bersifat negatif,

maka manajer tidak dapat menggunakan standar itu untuk waktu sekarang, tujuan

mutu yang ditetapkan harus bersifat meningkat dari sebelumnya.

4.5 Tujuan Mutu adalah Target yang Bergerak

Perubahan selalu terjadi dalam bisnis mulai dari teknologi baru, pesaing baru,

perubahan dalam masyarakat, ancaman, maupun peluang. Tujuan mutu juga harus

berubah untuk merespon perubahan tersebut. Diperlukan sarana untuk

mengevaluasi dampak perubahan tersebut dan untuk merevisi tujuan sesuai

dengan perubahan tersebut. Audit mutu dapat menjadi sarana untuk mengevaluasi

perubahan dan merevisi tujuan mutu.

Perusahaan yang menerapkan konsep benchmarking biasanya siap untuk

mengevaluasi perubahan yang terjadi dan memperhitungkan perubahan itu selana

proses benchmarking.

Page 12: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

5. Hierarki Tujuan Mutu

Tujuan mutu ada dalam hierarki atau tingkatan – tingkatan. Hierarki tujuan mutu

dapat digambarkan seperti piramida. Pada bagian puncak terdapat tujuan yang

utama, di bawahnya terdapat beberapa tujuan sekunder, tersier, dan seterusnya.

Dalam perencanaan mutu, tujuan utama perlu ditetapkan terlebih dahulu

dilanjutkan dengan pemecahan ke dalam tujuan sekunder, selanjutnya dilakukan

pemecahan lagi ke tujuan tersier. Pemecahan tujuan ini dilakukan sampai tujuan –

tujuan menjadi sangat spesifik sehingga didapat arti yang jelas, mudah dicapai

tanpa memerlukan pemecahan lebih lanjut.

Sebagai contoh, tujuan utama dari adanya mobil adalah transportasi yang efektif.

Kemudian tujuan sekundernya adalah keamanan, kenyamanan, ekonomi,

kelonggaran, daya tahan, penampilan, dll. Dari tujuan sekunder keamanan, dapat

dipecah lagi menjadi tujuan tersier seperti harga yang murah, biaya operasional

dan perawatan yang rendah, nilai jual kembali yang tinggi, dll. Dari tujuan tersier

dapat dipecah lagi menjadi jaminan purna jual, efisiensi bahan bakar, keandalan,

dan pelayanan yang memadai.

6. Pembagian Kepada Siapa?

Tidak ada jawaban yang tegas mengenai pertanyaan : Pembagian kepada siapa?

Hal itu dikarenakan aktivitas utama perusahaan pada dasarnya diselenggarakan

dengan menggunakan jaringan proses makro yang proses tersebut merupakan

sebuah sistem multifungsi yang terdiri dari serangkaian proses berurutan. Karena

sifatnya yang multifungsi, maka tidak dikenal “pemilik” tunggal dari proses

tersebut.

6.1 Dampak “M Besar”

Pada mulanya, tujuan mutu dikaitkan dengan kinerja dan fungsi-fungsi utama

seperti :

Harga yang dibayarkan untuk barang dan jasa yang dibeli

Ketepatan pelayanan terhadap pelanggan

Page 13: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

Banyak atau sedikitnya pemborosan dan rework dalam manufaktur

Kemudian tujuan-tujuan mutu yang baru mencerminkan meningkatkan kesadaran

terhadap pentingnya proses-proses bisnis lain seperti rekrutmen, penggajian,

pelelangan kontrak, dll. Hal tersebut tampak nyata dalam penetapan tujuan mutu

strategis seperti :

Memperpendek waktu untuk siklus peluncuran produk baru

Meningkatkan ketepatan dari perkiraan penjualan

Menciptakan hubungan baik dengan pemasok atas dasar kerja tim

Konsep M Besar ini mempertegas kenyataan bahwa industri-industri tidaklah

berbeda. Walaupun teknologi serat pasarnya berbeda, namun proses makro dari

industri-industri tersebut justru lebih banyak memiliki persamaan disbanding

perbedaannya.

6.2 Penyediaan Sumber Daya

Sumber daya adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan manfaat dari

tercapainya tujuan. Sumber daya ini sejajar dengan yang diperlukan untuk

menetapkan dan mempertahankan tujuan tradisional manajemen keuangan

keseluruhan perusahaan. Secara lebih spesifik, sumber daya ini meliputi:

Upaya yang diperlukan untuk menetapkan sistem tujuan strategis dasar,

termasuk proses untuk penetapan dan pembagian tujuan mutu, evaluasi

hasil, serta pengakuan dan imbalan.

Pelatihan mengoperasikan sistem

Upaya yang diperlukan di semua tingkat untuk menyelenggarakan sistem

secara berkesinambungan.

Dalam keadaan tiadanya beberapa bentuk tujuan mutu strategis, hambatan utama

untuk membuat kemajuan dalam peningkatan mutu adalah kurangnya sumber

daya. Hal ini telah luas terbukti dalam upaya proyek peningkatan mutu. Untuk

menyelesaikan proyek semacam itu, dibutuhkan berbagai sumber daya:

Waktu bagi anggota tim proyek untuk mengarahkan proyek

Dukungan dari para teknisi dan spesialis

Page 14: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

Pelatihan mengenai beberapa keterampilan dan peralatan

Kecuali beberapa aspek dari pelatihan, sumber daya tersebut dapat dikatakan

belum terpenuhi secara cukup. Pada gilirannya, kekurangan sumber daya

menyebabkan banyak upaya untuk meningkatkan mutu menjadi terbengkalai.

Pendekatan tujuan strategis, yang dimasukkan dalam perencanaan bisnis strategis,

memberikan jalan ke arah tersedianya sumber daya yang dibutuhkan. Perencanaan

bisnis strategis telah lama mencakup suatu pendekatan positif yang

memungkinkan mendapat sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan

bisnis strategis. Sebagai contoh: sebuah tujuan bisnis berbunyi: “meningkatkan

penjualan sebesar X persen”. Dalam proses penganggaran secara khusus

mencakup identifikasi sumber daya yang diperlukan: penambahan kapasitas

manufaktur, persediaan lebih banyak, penambahan tenaga penjual, dan lain-lain.

Pembahasan yang berkaitan dengan hal tersebut dipusatkan pada seberapa jauh

sumber daya itu dapat menjamin kembalinya modal secara memadai.

Mereka yang paham tentang “campur tangan perusahaan” harus mencatat bahwa

penggunaan tujuan mutu strategis memungkinkan diciptakannya saluran-saluran

resmi untuk menghadapi masalah yang berkaitan dengan penyediaan sumber

daya.

6.3 Campur Tangan Perusahaan

Di sejumlah perusahaan, penetapan tujuan mutu strategis menghadapi penolakan

dari beberapa divisi (atau bagian fungsional) karena dianggap sebagai “campur

tangan perusahaan”. Penetapan tujuan mutu strategis memang mengurangi

otonomi yang semula dinikmati oleh divisi atau bagian tersebut. Pengurangan

otonomi semacam ini tak pernah disambut dengan gembira, walau dalam suasana

hubungan antar manusia yang harmonis sekalipun. Bahkan dalam kondisi yang

kurang harmonis, masalahnya bisa lebih praha.

Hakikat dari pengurangan otonomi ini tampak nyata bila kita melihat pada fungsi

keuangan. Di hampir semua perusahaan besar, kantor pusat “mencampuri urusan”

divisi keuangan dalam tiga cara:

Page 15: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

Persetujuan anggaran keuangan divisi

Persetujuan rencana keuangan divisi agar sesuai anggaran

Tinjauan terhadap kinerja keuangan divisi dibandingkan dengan anggaran

“Campur tangan” yang serupa dalam kaitannya dengan mutu terdiri dari tindakan

yang diambil oleh kantor pusat untuk:

Menyetujui tujuan mutu yang ditetapkan oleh divisi

Menyetujui rencana divisi untuk mencapai tujuan tersebut

Meninjau kinerja mutu dari divisi

Perbedaan pokoknya terletak pada kenyataan bahwa dalam hal keuangan praktik

campur tangan berlangsung terus menerus, sedang dalam hal mutu praktik hanya

terjadi saat permulaan. Namun demikian, betapapun penerapan tujuan mutu

strategis menimbulkan campur tangan terhadap monopoli yang semula ada. Inilah

harga yang harus dibayar.

7. Tujuan Mutu pada Tingkat Bawah

Tujuan mutu strategis jumlahnya sedikit. Namun demikian, setiap tujuan sangat

penting artinya, sehingga memerlukan perhatian dari para manajer tingkat atas.

Sebaliknya, tujuan taktis sangat banyak jumlahnya. Tujuan ini sangat bermanfaat,

sehingga menarik perhatian orang-orang tingkat bawah dalam hierarki.

Dalam bab ini, pembahasan telah ditekankan pada tujuan mutu strategis dan

pembagiannya. Penekanan ini perlu dalam kaitannya dengan kecenderungan kuat

untuk membawa tujuan mutu strategis ke dalam perencanaan bisnis. Tujuan mutu

strategis ini juga merupakan pelengkap, bukan pengganti tujuan mutu taktis.

Meskipun demikian, tujuan mutu strategis pasti akan berpengaruh terhadap pola

tujuan taktis.

Bab berikutnya akan secara luas membahas tujuan mutu taktis:

Kebutuhan pelanggan melahirkan tujuan mutu. Hal ini akan dibahas dalam

Sejumlah tujuan mutu yang lain dihasilkan dari berbagai sumber lain, seperti

Page 16: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

misalnya upaya peningkatan mutu, pelatihan peningkatan mutu, dan motivasi

peningkatan mutu. Akan terlihat nanti bahwa tujuan mutu strategis hanya

merupakan bagian kecil, puncaknya, dari suatu piramida yang sangat besar.

Bagian terbesar dari piramida itu berisi tujuan mutu taktis.

7.1 Daftar Butir-Butir Penting

1. Tujuan mutu adalah sasaran mutu yang diinginkan.

2. Tidaklah mungkin membuat rencana secara abstrak. Seseorang dapat

membuat rencana hanya bila tujuan telah ditetapkan.

3. Visi memiliki hubungan yang kecil saja dengan kenyataan sebelum visi itu

diubah ke dalam bentuk tujuan kuantitatif, yang harus dicapai dalam kurun

waktu tertentu

4. Tujuan mutu yang berpengaruh terhadap daya jual produk harus

didasarkan terutama pada pasar.

5. Dalam hal-hal yang berkaitan dengan biaya tinggi kronis akibat mutu yang

jelek, landasan historis dalam menentukan tujuan mutu strategis justru

akan merusak, karena membantu mempertahankan pemborosan secara

kronis pula.

6. Tujuan dalam mengatasi biaya tinggi yang kronis akibat mutu yang jelek,

harus didasarkan pada terobosan-terobosan terencana menggunakan proses

peningkatan mutu.

7. Tujuan mutu adalah sasaran yang bergerak.

8. Dalam membagi tujuan mutu strategis harus dihilangkan adanya kekurang

jelasan jawaban atas pertanyaan “dibagikan kepada siapa?”

9. Penetapan tujuan mutu strategis mengurangi otonomi yang sebelumnya

dimiliki oleh beberapa divisi dan bagian fungsional.

7.3 Tugas Bagi Manajer Tingkat Atas

1. Para manajer tingkat atas harus menjadi sumber bagi munculnya tujuan

mutu strategis yang dinominasikan.

2. Selama proses penetapan tujuan mutu, para manajer tingkat atas harus

waspada terhadap digunakannya secara keliru kinerja historis sebagai

landasan.

Page 17: Kelompok 2 (Establish Quality Goals)

3. Dalam membagi tujuan mutu yang menyangkut proses multifungsi, para

manajer tingkat atas harus menghadapi pertanyaan “dibagikan kepada

siapa?”